LEBIH BAIK DIKELOLA OLEH WARGA SENDIRI, ATAU BERLANGGANAN KE PDAM ?

SATU paket dalam perencanaan desain, adalah juga mengenai bagaimana nantinya infrastruktur yang dibangun itu akan bisa bekerja dan berjalan terus menerus.

Dalam hal ini mengenai perencanaan dan pembangunan sistem air bersih, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya (baca disini!), perlu ditambahkan mengenai bagaimana dan siapa yang selanjutnya akan “menjalankan” sistem air berseih tersebut.

Pilihan jatuh pada dua kemungkinan (jika kebetulan keduanya ada) yaitu (1) Dikelola oleh PDAM, sebagai badan yang secara resmi bertanggungjawab mengelola penyediaan air minum di wilayahnya; (2) Dikelola oleh swadaya masyarakat. Nah bagaimana cara kamu bersikap jika dihadapkan pada dua pilihan tersebut?

Langkah yang perlu diambil adalah mengadakan pendekatan dengan kedua pihak (PDAM dan Masyarakat), sebab adakalanya PDAM memang tidak bersedia (keberatan) untuk “diserahterima-i” sarana air bersih (terlebih jika sarana itu “ujug-ujug” udah jadi, tanpa asistensi pihak PDAM). Atau sebaliknya, masyarakat lebih tertarik mengelola sendiri, dengan berbagai alasan, termasuk “trauma” pada pelayanan PDAM yang selama itu tidak memuaskan.

Solusi cepat dan sederhana yang bisa diambil adalah :

  1. Jika sumber air yang digunakan untuk sistem air bersih itu berasal dari jaringan induk PDAM, sebaiknya pengelolaan diserahkan kepada PDAM. Bagaimanapun beban tarif yang dibayarkan oleh tiap pelanggan kepada pengelola swadaya akan jauh lebih mahal dibandingkan jika membayar langsung sebagai pelanggan PDAM. Hal ini disebabkan karena pemberlakuan tarif progressif  (penjelasan tentang tariff progresif akan dijelaskan kemudian)
  2. Jika sumber air bukan berasal dari jaringan PDAM, tawarkan kepada pihak masyarakat terlebih dahulu, bicarakan tentang biaya operasional yang harus di tanggung, lengkap dengan biaya pemeliharaan dan penyusutan aset (depresiasi). Jalan yang terbaik sebenarnya adalah tetap diserahkan kepada PDAM sebagai badan yang kompeten untuk itu.

Oh ya jangan lupa tuangkan semua “kesepakatan” itu secara tertulis, agar jika ada persoalan di kemudian hari semua akan kembali kepada kesepakatan, perjanjian yang tertulis tadi.

NAH ADA MASALAH?***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s