ANCAMAN AIR BERSIH JAKARTA

SUSAHNYA memperoleh air di Ibukota Jakarta terutama bagi pelanggan besar seperti hotel, area wisata dan sejenisnya.

Dahulu, mereka lebih memilih koneksi dari pihak PAM JAYA (sejak 1998 dikelola oleh mitra asing PALYJA dan AETRA).

Sebagai ilustrasi tarif pada tahun 2001 untuk kelompok IVB (termasuk di dalamnya Hotel, dan PT Jaya Ancol) sebesar Rp 5200 per meter kubiknya. Saat ini sejak tahun 2007 harga tersebut sudah menjadi Rp 12.550 /m3.

Dari sisi bisnis, pihak operator (PALYJA dan AETRA) tentu memiliki alasan dan hitung-hitungan untuk terus menaikkan tarifnya. Namun apa yang terjadi saat pelanggan besar tersebut memutuskan untuk mengolah airnya sendiri ?

Bisa diduga, alasan pelanggan besar (seperti PT Jaya Ancol), nampaknya bukan persoalan kekurangan pasokan air dari pihak AETRA, namun lebih kepada alasan ekonomis biasa (coba saja bandingkan : membeli air seharga Rp 12.550/m3, atau memproduksi air sendiri dengan harga yang lebih murah–seharga Rp 5.200/m3–). Berita selengkapnya, klik disini

Namun, memang tidak bisa dipungkiri, persoalan utama jakarta adalah penyediaan air baku. Sebagian besar sumber air baku buat air minum jakarta adalah berasal dari luar jakarta (dari waduk jatiluhur, dan dari tanggerang).

Penambahan terus jumlah sambungan pelanggan, dengan sumber air baku yang tetap, suatu saat akan menyebabkan “jatah” setiap pelanggannya akan terus berkurang. Kondisi ini sudah mulai terasa dengan munculnya berbagai keluhan di wilayah paling jauh dari pusat ditribusi (di wilayah utara Jakarta).

Jadi kalau ada yang bilang, “ah, dulu waktu masih dikelola sama PAM JAYA air lancar, sekarang setelah KERJASAMA dengan PIHAK ASING, pelayanan tambah buruk…”, kalau dicermati, sebenarnya persoalannya ada di jumlah pelanggan yang semakin bertambah sementara air baku yang relatif tetap. Ditingkahi pula dengan banyaknya “kebocoran” yang memang jadi persoalan yang membuat sakit kepala semua pihak.***

2 responses to “ANCAMAN AIR BERSIH JAKARTA

  1. Saya sependapat dengan Sentot, saya mengalami sendiri di daerah Pejagalan, rumah saya di tawari oleh “oknum” PALYJA apakah mau sambungan “atas” atau “bawah”. Kalau mau air lancar terus sebaiknya beri ongkos tambahan sebesar seratus ribu untuk diberi sambungan “bawah”.
    Semula saya tidak paham apa yang di maksud “atas” dan “bawah”. Ternyata di daerah saya (Pejagalan) terdapat dua buah pipa lama dan baru (harusnya pipa lama tidak di fungsikan lagi kan?) Namun “oknum” ini bisa mengatur sedemikian sehingga pipa lama “bawah” tetap bisa di fungsikan dan lebih lancara airnya.

  2. Bukankah di PDAM itu ada slogan “sakit itu menyenangkan”?

    Jadi ya memang susah. Selain memang faktor teknis, juga ada faktor moral hazard.

    Tabik,
    Sentot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s