BANK SAMPAH, 3R vs PEMULUNG

SAMPAH yang menumpuk tentu mejadi persoalan setiap wilayah. Bagaimana tidak, jika sampah menumpuk begitu saja di tepi jalan, di parit, atau di tepi sungai, tentu akan mengganggu estetika dan berkesan JOROK.

Sampah timbul dari segala “sisa” aktivitas manusia, dan memang untuk di buang, dan disinilah persoalan dimulai, dibuang berarti membutuhkan wadah dan tempat untuk menampungnya.

Syukurlah, jenis sampah organik memiliki kemampuan alamiah untuk “membusuk” dan itu berarti mengurangi volume sampah. Namun sampah yang non organik yang tidak memiliki kemampuan “menyusut” cenderung akan mempertahankan bentuknya untuk sekian lama.

Seperti pernah dijelaskan sedikit disini, bahwa pengelolaan sampah itu hanya ada 3 yaitu, Pengumpulan, Pengangkutan, dan Pengelolaan akhir.

Upaya seperti 3R, adalah upaya antara untuk mengurangi “beban” pengelolaan akhir, yang persoalan utama nya adalah ruang untuk menampung sampah.

Dengan gencarnya program 3R, Bank sampah dan sejenisnya, masyarakat dididik untuk memilah sampah sebelum benar2 “membuangnya”. Namun kalau dicermati, sebenarnya hal ini sudah lama dilakukan oleh para laskar mandiri alias pemulung.

Coba saja perhatikan bagaimana cara kerja pemulung itu, mengkorek2 sampah, mengambil beberapa yang masih “berharga” untuk kemudian di jual.

Bayangkan, apa yang bakal terjadi jika sampah yang biasanya dikorek2 oleh mereka itu kini sudah benar2 tidak menyisakan apapun, karena sudah keduluan di sortir oleh masyarakat yang sudah sadar 3R.

Kalau kita perhatikan program2 seperti pengelolaan sampah oleh masyarakat, berapa banyak yang “sukses” dan mampu membiayai kegiatannya sendiri dapat dihitung dengan jari, selebihnya menjadi seperti tempat sampah sementara saja.

Pemerintah tidak mungkin terus menerus “membeli” sampah dari masyarakat melalui program Bank Sampah atau 3R, keberlangsungan “rekayasa sosial” itu bergantung penuh kepada keberhasilan meningkatkan nilai ekonomi produk sampah yang sudah didaur ulang, dan –tentu saja– MENJUALNYA. Karena alasan ini pula lah, beberapa komunitas pengelola 3R HANYA berkegiatan mendaur ulang sampahnya “jika ada pesanan”, alias sampah kembali menumpuk dan langsung memenuhi TPA seperti biasanya.

Hal paling mudah adalah menyasar perusahaan-perusahaan melalui program2 CSR nya untuk “terpaksa” membeli kompos, souvenir, tas, dompet, notes berbingkai bungkus kemasan daur ulang. Hmmmm

Nampaknya jika sebuah kota ingin menjadikan kotanya bersih dari sampah, cukup kumpulkan saja para pemulung, beri mereka area jelajah yang lebih luas hingga setiap RT.

Eh tapi bukankah sekarang juga sudah berjalan demikian? ***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s