KETAHANAN ENERGI, PANGAN, SUMBER DAYA AIR, (Bertanya-tanya seputar Scarcity and Security)

RESOURCE Scarcity and Energy Security, istilah yang lahir dari kalangan akademisi dunia mengenai kondisi sumber daya saat ini menjadi topik hangat di media cetak, elektronik ataupun terdengar pakar-pakar Indonesia menyuarakan. Suara-suara bernada peringatan adanya bahaya, namun harus bagaimana terkadang tidak terdengar sama lantangnya.

Scarcity atau kelangkaan menyangkut pembahasan Produksi, Distrisbusi, dan Aksesibilitas. Sedangkan Security mengatakan bahwa ketersediaan sumber daya saat ini makin terbatas.

Istilah ini kemudian menjadi Ketahanan. Ketahanan energi, ketahanan pangan, ketahanan air.

Di Indonesia, kementrian mana yang mengurus masalah ini? Apakah terjemahan menjadi Ketahanan ini artinya hal ini merupakan tugas Lembaga Ketahanan Nasional? Atau mungkin urusan Kementrian Pemuda dan Olahraga? Mengingat kalau terjemahan secara kata, Ketahanan adalah endurance, yang biasanya dihubungkan dengan stamina.

Menurut beberapa sumber data, untuk energi secara nasional saat ini kita sudah mengkonsumsi energi hampir 128% melebihi dari kuota yg sudah ditetapkan (sumber : bisnis.com), dan hampir 70% bahan bakar kita adalah impor (sumber : media indonesia).  Sedangkan untuk pangan, pola makan selain nasi udah jadi indikasi ketersediaan beras dalam negeri sudah bahaya. Untuk penyediaan air bersih, khusus jakarta sudah dalam kategori rawan karena bergantung 97% sumber air baku nya dari luar jakarta (sumber : watsanindo.bocah.info).

Apa artinya data tersebut? Sampai kapankah kita benar-benar akan tidak punya energi, pangan dan air jika tidak dilakukan antisipasi? Sebenarnya bagaimana indikator level aman atau rawannya ketahanan Energi, Pangan, dan Air negara saat ini? Apakah Lemhanas perlu mengeluarkan pernyataan darurat Energi, Pangan, dan Air? Siaga 1? 2? 3? Hijau? Kuning? Merah?

Seperti halnya “ilmu iklan” menjual rasa takut, diharapkan akan ada suatu tindakan mencegah, mengatasi. Menjual obat-obatan suplemen kecantikan, anti usia, identik dengan menjual ketakutan akan menjadi tua. Pernah nonton film serupa doomsday prepper? Di mana digambarkan orang melakukan segala hal sesuai pemenuhan rasa takutnya menghadapi kiamat.

Maka istilah ketahanan energi, pangan, air nampaknya diangkat untuk membangkitkan rasa “takut” dan akhirnya menggugah kepedulian pada ketersediaan energi, pangan dan air.

Setelah “takut” lalu ada tindakan apa? Apa yang telah berubah saat ini sejak adanya pengetahuan tentang ini?

Jika komponen “ketahanan” itu adalah mengenai produksi, distrisbusi, dan aksesibilitas, termasuk ketersediaan, maka misalnya Ketahanan Air di wilayah Indonesia sudah minim, karena apa dan bagi siapa? Apakah berlaku bagi seluruh kalangan dan berdampak pada yang tinggal di kota besar? Apakah karena produksi nya minim? Distribusi nya tidak baik? Apakah banyak kebocoran air? Atau karena belum meratanya jalur perpipaan ke setiap penduduk? Kalau karena semuanya, dan banyak hal lain lagi sebagai sebab akibat, apa yang HARUS DILAKUKAN untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut?

Apakah menunggu solusi dengan yang “terbarukan”? Yang masih diteliti, seberapa besar usaha yang terbarukan akan menyebabkan potensi lain menjadi “terhabiskan”? Yang masih dirancang dari mana dananya?

Lalu, kita harus bagaimana? …..Menunggu adalah pilihan. Bertindak adalah inspirasi.

Ketahanan, jika dipandang sebagai sebuah peringatan melemahnya kondisi tubuh, dapat diartikan saatnya belajar berlaku bijak mengevaluasi pola hidup. Sebelum energi terbarukan ditemukan, selama rencana masih dalam pembahasan, ada baiknya tindakan segera dan sederhana dapat diserukan.

Topik mengenai keterbatasan akan selalu menuju pada pendidikan berlaku HEMAT dan bertindak positif untuk beralih pada ALTERNATIF yang tersedia. Hemat dalam pemakaian ENERGI, beralih naik kendaraan umum daripada pribadi, mencoba beralih ke PANGAN selain nasi, dan hemat menggunakan AIR.

Bagi yang bercukupan dan ber-pangkat-an, bagi yang tinggal di kota besar, di mana semua relatif mudah didapat, akan lebih “takut” berhemat, dan beralih dari kebiasaan nyaman, daripada “takut” menghadapi isu Ketahanan Energi, pangan, dan air.

Memikirkan terlalu jauh ke depan, jangan melupakan hal yang bisa dilakukan hari ini. Merasakan kenyamanan akan lebih nikmat jika sesekali mengalami kesulitan. Bagaimanapun, bertahan dan belajar adalah kemampuan alami semua mahluk hidup.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s