YUK HITUNG-HITUNG MEMBANGUN DEEP RESERVOIR

DEEP RESERVOIR atau TARP (Tunnel And Reservoir Plan) sudah dikenal terlebih dahulu di Chicago untuk mengurangi banjir yang menggenangi Metropolitan Chicago. Konsep TARP ini lah yang awalnya menginspirasi penggagas Deep Tunnel bagi DKI Jakarta.

Konsepnya Deep Reservoir ini adalah menyediakan ruangan besar di dalam tanah untuk menampung limpasan air hujan (dan tidak menutup kemungkinan segala macam air buangan di atas permukaan tanah), sedemikian rupa, sehingga saat musim “banjir” tiba, air yang biasanya menggenangi DKI Jakarta seperti yg terjadi pada tanggal 17 Januari 2013, akan masuk ke dalam tangki raksasa di bawahnya.

Selanjutnya Air yang tertampung di dalam Deep Reservoir itu di pompakan kembali ke atas permukaan tanah, dialirkan melalui sungai2, atau digunakan untuk sumber air baku (baca : Krisis Air Jakarta), dan penggunaan lainnya.

Sekarang mari kita hitung-hitung, seberapa besar sih reservoir yang dibutuhkan untuk dapat mengatasi persoalan banjir di Jakarta.

Asumsi yang kita gunakan adalah :

  1. Besarnya sumber air hujan lokal di wilayah DKI Jakarta, berdasarkan data BMKG pada tanggal 17 Januari 2013 rata-rata curah hujan di wilayah DKI adalah 100 mm per hari.
  2. Asumsi “banjir kiriman” dari bogor tidak kita masukkan mengingat sudah ada infrastruktur untuk menanggulanginya yaitu saluran Kanal Banjir Barat (KBB) dan Kanal Banjir Timur (KBT)

Dengan asumsi tersebut diatas dapat dihitung sebagi berikut

Jumlah air yang jatuh dari Langit di atas DKI Jakarta yang memiliki luas 600 km2 adalah: 100 mm x 600 km2 = 0,1 m x 600.000.000 m2 = 60.000.000 m3 per hari nya.

Nah, anggap saja sebagian besar air yang jatuh ke bumi DKI Jakarta melimpas alias sedikit sekali yang menyerap ke dalam tanah. sehingga 60 juta m3 air hujan tadi lah yang harus “ditampung” di dalam deep reservoir kita.

Jika kita ingin membangun reservoir dalam bentuk balok, maka diperlukan dimensi balok sebesar 5,5 km x 5,5 km x 2 m. Atau dengan kata lain, terdapat reservoar raksasa yang membentang di bawah tanah Jakarta yang membentang dari Semanggi ke arah timut hingga Jatinegara, dan Ke arah Utara hingga Harmoni dengan dalam Reservoir 2 meter. Tentu saja area bisa di perkecil dengan menambah kedalaman Deep Reservoir tadi, namun dengan menambah kedalaman, akan juga menambah tenaga jenis pompa untuk mengurasnya.

Atau jika ingin mengikuti model deep tunnel di Malaysia, maka diperlukan “lorong” dengan diameter 13,2 m, dengan panjang 440 km (setara dengan jarak Jakarta-Semarang), lorong dapat dibuat berkelok-dan tumpang tindih.

Persoalan genangan air sudah selesai, seluruh air hujan yang mengakibatkan banjir itu sudah berhasil kita masukkan ke dalam deep reservoir kita. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana cara mengosongkan air di dalam deep reservoir itu? Tentu saja dengan pompa.

Jika digunakan pompa besar seperti yang ada di waduk Pluit dengan kapasitas 5 m3/detik, (sumber : pu.go.id), maka jika misal ada 10 pompa yang tersebar, akan mampu mengeringkan isi Deep Reservoir selama 14 hari.

Harus juga dilakukan upaya pengurasan Reservoir dari endapan lumpur, dan juga tentu saja Sampah.

Berapa biaya yang diperlukan untuk membangun deep reservoir tadi?, misal dilakukan pendekatan untuk membangun reservoir konstruksi beton dengan volume 1 m3 diperlukan biaya konstruksi Rp 700.000, maka untuk membangun Reservoir dengan volume 60 juta m 3 berarti sekitar Rp 42 Triliyun, belum termasuk Biaya pembebasan tanah dan Operasioanal dan Pemeliharaan, (ini adalah biaya “deep reservoir” dengan kapastitas 1 hari, kalau untuk kapasitas 1 jam berarti harganya hanya 1/24 -nya yaitu Rp 2 Triliyun, masih lbh murah dari harga ancer2 terowongan “multifungsi” Jakarta yang bernilai Rp 16 Triliyun,–yang juga berkapasitas menampung banjir 1,5 jam— sumber kompas.com)

Mungkin klo DKI Jakarta punya dan sanggup membeli tanah, sebaiknya dengan uang Triliyunan itu digunakan untuk membangun waduk-waduk yang tersebar di seluruh wilayah DKI.

Apakah DKI Jakarta Berminat?***

2 responses to “YUK HITUNG-HITUNG MEMBANGUN DEEP RESERVOIR

  1. Secara umum pun system drainase perkotaan mempunyai karakteristik ‘sempit dan dalam’, atau bahkan ada yang seluruhnya merupakan system drainase bawah permukaan. Teknologi bawah tanah itu pula yang digunakan oleh pertanian di Jepang untuk menjaga agar air tanah tidak turun drastis, sehingga lahannya tetap layak untuk ditanami. Pada perkembangannya, air tanah yang dikontrol kedalamannya tersebut digunakan untuk mengairi lahan, sehingga nama reservoir bawah permukaan menjadi lebih tepat. Reservoir bawah permukaan di Miyakojima, Kepulauan Ryukyu, Selatan Jepang, yang mempunyai kapasitas 20 juta meter kubik mungkin bisa dijadikan areal percontohan dengan intensifnya penelitian mengenai efek reservoir tersebut terhadap ekosistem. Meskipun kapasitasnya jauh lebih kecil dari kapasitas Waduk Jatiluhur yang mencapai 3000 juta meter kubik, Reservoir Miyakojima dianalogikan dapat menurunkan banjir Jakarta tahun 2002 sebesar 12.5 cm, dimana saat itu 24.25% areal Jakarta terendam setinggi 5meter.

  2. Pingback: DEEP TUNNEL ATAU DEEP RESERVOIR? | WATER & SANITATION

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s